UPDATE HARIAN

PENANGANAN INTENSIF SUMUR YYA-1 PHE ONWJ
STATUS : KAMIS, 5 SEPTEMBER 2019
DILAPORKAN : PUKUL 11.00 WIB

  1. Penanganan Sumur YYA-1 dengan Pengeboran Relief Well untuk Menutup Sumur Secara Permanen

    Pengeboran Relief Well telah mencapai kedalaman 2.606 meter atau 8.550 ftMD dari target 2.765 meter (sekitar 9.000 feet), Proses Pengeboran trayek lubang 12-1/4” dengan menggunakan metode ranging sedang berjalan.

    PHE ONWJ melakukan upaya pengendalian dan mematikan sumur YYA-1 dengan melakukan pengeboran sumur relief well (YYA-1 RW). Pengeboran mulai dilakukan pada 1 Agustus 2019 dengan menggunakan rig Soehanah yang berdiri sekitar 1 kilometer dari anjungan YY, tempat sumur YYA-1 berada.

    Rencananya, sumur relief well ini akan menembus sampai kedalaman sekitar 2.765 meter. Dengan pengeboran relief well ini, diharapkan dapat menutup sumur YYA-1 sehingga dapat menghentikan tumpahan minyak.

  2. Penanganan Tumpahan Minyak di Perairan dan Pesisir Pantai

    Per Rabu, 04 September 2019, PHE ONWJ menggelar oil boom sepanjang 15.995 meter untuk menghalau tumpahan minyak di perairan dan di pesisir pantai. Selain itu, PHE ONWJ juga mengerahkan 3.764 personil di darat dan laut, serta mengerahkan 43 unit kapal.

    Oil boom yang digelar tersebar di sejumlah titik. Di perairan, PHE ONWJ menggelar  4.850 meter static oil boom di lapis pertama dan 2550 meter di lapis kedua. Selain itu, PHE ONWJ juga menempatkan 200 meter moveable oil boom, dan ditambah bantuan 400meter oil boom di FSRU Nusantara Regas. Untuk di pesisir, PHE ONWJ menggelar 7.995 meter oil boom  yang tersebar di Karawang & Kepulauan Seribu.



     

    PHE ONWJ didukung 3.764 personil yang terbagi dua kelompok yaitu 922  personil bertugas di perairan dan 2.772 bertugas di daratan. Dukungan personil ini terdiri dari elemen Oil Spill Combat Team (OSCT), TNI Polri, dan elemen masyarakat sekitar.  

    Operasi pembersihan tumpahan minyak di perairan didukung dengan 43 unit kapal. 11 unit kapal diantaranya bertugas untuk oil combat. Selebihnya bertugas untuk pengejaran dan pengepungan minyak yang tercecer, pengangkut tumpahan minyak, patroli, dan siaga back up pemadam kebakaran.

  3. Penanganan Aspek Masyarakat

    Per Rabu, 04 September 2019, PHE ONWJ menempatkan 10 posko medis di Ciwaru, Pusaka Jaya Utara, Sedari, Tambak Sari, Batu Jaya, Tanjung Pakis, Cemara Jaya, Pasir putih, Sungai Buntu dan Kepulauan Seribu. Posko tersebut didukung 6 orang dokter, 39 tenaga medis, dan diperkuat dengan 5 unit ambulance yang dilengkapi dengan peralatan medis dan obat-obatan. Ambulance tersebut siaga di  Sedari, Tambak Sari, batu Jaya, Tanjung Pakis, dan Cemara Jaya.

    Sedangkan di Kepulauan Seribu, PHE ONWJ menempatkan 3  tim medis yang terdiri dari 1 orang dokter dibantu 2 tenaga medis serta penggunaan perahu ambulance yang bekerjasama dengan puskesmas Pulau Tidung dan pemberdayaan Puskesmas di Pulau Lancang Besar.

    Posko kesehatan PHE ONWJ tersebut telah melakukan pengawasan kesehatan, pemeriksaan,  dan pengobatan untuk sekitar 17.478 orang warga masyarakat (pemeriksaan harian sampai dengan 04 September 2019).  

    Pemerintah Kabupaten Karawang membentuk Tim Kompensasi yang terdiri dari Lintas Dinas, Muspida, Muspika dan PHE ONWJ untuk penanganan kompensasi masyarakat akibat tumpahan minyak. Tim tersebut akan melakukan beberapa hal seperti merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi sesuai hasil verifikasi. Masyarakat terdampak akan menyampaikan pengaduan kerugian ke posko pengaduan yang didirikan di setiap desa terdampak, kemudian dilakukan inventarisasi dan verifikasi oleh tim untuk memastikan data kerugian.
    Untuk mempercepat proses kompensasi, Pertamina juga membentuk Tim Khusus Pendataan dan Kompensasi. Tim ini terbagi menjadi 8 (delapan) sub tim yang didalam nya terdiri dari perwakilan
    Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Karawang, Pertamina Grup, dan Tim ahli yang turun langsung ke masyarakat. Sekitar 230 lebih personil diturunkan serentak untuk mendata secara komprehensif warga masyarakat yang terdampak di sepanjang lokasi di Karawang dan Bekasi.