UPDATE HARIAN
PENANGANAN INTENSIF SUMUR YYA-1 PHE ONWJ
STATUS : KAMIS, 29 AGUSTUS 2019
DILAPORKAN : PUKUL 14.00 WIB

  1. Penanganan Sumur YYA-1 dengan Pengeboran Relief Well untuk Menutup Sumur Secara Permanen

    Pengeboran Relief Well telah mencapai kedalaman 2.286 meter atau 7.500 ftMD dari target 2.765 meter (sekitar 9.000 feet), Proses Pengeboran trayek lubang 12-1/4” dengan menggunakan metode ranging sedang berjalan.

    PHE ONWJ melakukan upaya pengendalian dan mematikan sumur YYA-1 dengan melakukan pengeboran sumur relief well (YYA-1 RW). Pengeboran mulai dilakukan pada 1 Agustus 2019 dengan menggunakan rig Soehanah yang berdiri sekitar 1 kilometer dari anjungan YY, tempat sumur YYA-1 berada.

    Rencananya, sumur relief well ini akan menembus sampai kedalaman sekitar 2.765 meter. Dengan pengeboran relief well ini, diharapkan dapat menutup sumur YYA-1 sehingga dapat menghentikan tumpahan minyak.

  2. Penanganan Tumpahan Minyak di Perairan dan Pesisir Pantai

    Per Kamis, 29 Agustus 2019, PHE ONWJ menggelar oil boom sepanjang 14.490 meter untuk menghalau tumpahan minyak di perairan dan di pesisir pantai. Selain itu, PHE ONWJ juga mengerahkan 2.897 personil di darat dan laut, serta mengerahkan 45 unit kapal.

    Oil boom yang digelar tersebar di sejumlah titik. Di perairan, PHE ONWJ menggelar  4.200 meter static oil boom di lapis pertama dan 1.850 meter di lapis kedua. Selain itu, PHE ONWJ juga menempatkan 200 meter moveable oil boom, dan ditambah bantuan 400 meter oil boom di FSRU Nusantara Regas. Untuk di pesisir, PHE ONWJ menggelar 7.840 meter oil boom  yang tersebar di Karawang & Kepulauan Seribu (Desa Cemara Jaya 300m, Desa Tanjung Pakis 60m, Desa Sedari 2.190m, Desa Pantai Bakti 340m, Desa Tambak Sari 2.760m, Desa Sungai Buntu 325m, Kepulauan Seribu 1.160m, Desa Sukajaya 615m).

    PHE ONWJ didukung 2.897 personil yang terbagi dua kelompok yaitu 920  personil bertugas di perairan dan 1.977 bertugas di daratan. Dukungan personil ini terdiri dari elemen Oil Spill Combat Team (OSCT), TNI Polri, dan elemen masyarakat sekitar.  

    Operasi pembersihan tumpahan minyak di perairan didukung dengan 45 unit kapal. 11 unit kapal diantaranya bertugas untuk oil combat. Selebihnya bertugas untuk pengejaran dan pengepungan minyak yang tercecer, pengangkut tumpahan minyak, patroli, dan siaga back up pemadam kebakaran.

  3. Penanganan Aspek Masyarakat

    Per Rabu, 28 Agustus 2019, PHE ONWJ menempatkan Layanan Kesehatan di 12 lokasi (area Karawang 11 lokasi, area Kepulauan Seribu 1 lokasi). Support tenaga medis untuk AWB Stork, check obat (jenis dan jumlah, masa kadaluwarsa) dan peralatan medis.
    Rencana dalam waktu dekat:

    • Kegiatan Hygiene Inspection di AWB Stork (Galley, Kitchen, Food Storage, Fasilitas Akomodasi) target selesai sebelum tgl 1 September 2019.

    • Kegiatan rutin edukasi dan layanan kesehatan di desa terdampak

    Posko kesehatan PHE ONWJ tersebut telah melakukan pengawasan kesehatan, pemeriksaan, sebanyak : Health surveillance/Daily Check Up: 444 orang & Layanan Pengobatan 434 orang dan pengobatan untuk sekitar total 878 orang warga masyarakat (sampai dengan Layanan Pengobatan Per 28 Agustus 2019, Source: dr.Tulus, 28 Agustus 2019 06;06pm).

    Pemerintah Kabupaten Karawang membentuk Tim Kompensasi yang terdiri dari Lintas Dinas, Muspida, Muspika dan PHE ONWJ untuk penanganan kompensasi masyarakat akibat tumpahan minyak. Tim tersebut akan melakukan beberapa hal seperti merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi sesuai hasil verifikasi. Masyarakat terdampak akan menyampaikan pengaduan kerugian ke posko pengaduan yang didirikan di setiap desa terdampak, kemudian dilakukan inventarisasi dan verifikasi oleh tim untuk memastikan data kerugian.

    Untuk mempercepat proses kompensasi, Pertamina juga membentuk Tim Khusus Pendataan dan Kompensasi. Tim ini terbagi menjadi 8 (delapan) sub tim yang didalam nya terdiri dari perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Karawang, Pertamina Grup, dan Tim ahli yang turun langsung ke masyarakat. Sekitar 230 lebih personil diturunkan serentak untuk mendata secara komprehensif warga masyarakat yang terdampak di sepanjang lokasi di Karawang dan Bekasi.