UPDATE HARIAN
PENANGANAN INTENSIF SUMUR YYA-1 PHE ONWJ
STATUS : MINGGU, 1 SEPTEMBER 2019
DILAPORKAN : PUKUL 14.00 WIB

  1. Penanganan Sumur YYA-1 dengan Pengeboran Relief Well untuk Menutup Sumur Secara Permanen

    Pengeboran Relief Well telah mencapai kedalaman 2.514 meter atau 8.250 ftMD dari target 2.765 meter (sekitar 9.000 feet), Proses Pengeboran trayek lubang 12-1/4” dengan menggunakan metode ranging sedang berjalan.

    PHE ONWJ melakukan upaya pengendalian dan mematikan sumur YYA-1 dengan melakukan pengeboran sumur relief well (YYA-1 RW). Pengeboran mulai dilakukan pada 1 Agustus 2019 dengan menggunakan rig Soehanah yang berdiri sekitar 1 kilometer dari anjungan YY, tempat sumur YYA-1 berada.

    Rencananya, sumur relief well ini akan menembus sampai kedalaman sekitar 2.765 meter. Dengan pengeboran relief well ini, diharapkan dapat menutup sumur YYA-1 sehingga dapat menghentikan tumpahan minyak.

  2. Penanganan Tumpahan Minyak di Perairan dan Pesisir Pantai

    Per Minggu, 1 September 2019, PHE ONWJ menggelar oil boom sepanjang 15.295 meter untuk menghalau tumpahan minyak di perairan dan di pesisir pantai. Selain itu, PHE ONWJ juga mengerahkan 2.908 personil di darat dan laut, serta mengerahkan 47 unit kapal. Oil boom yang digelar tersebar di sejumlah titik. Di perairan, PHE ONWJ menggelar 4.600 meter static oil boom di lapis pertama dan 2.150 meter di lapis kedua. Selain itu, PHE ONWJ juga menempatkan 200 meter moveable oil boom, dan ditambah bantuan 400 meter oil boom di FSRU Nusantara Regas. Untuk di pesisir, PHE ONWJ menggelar 7.945 meter oil boom yang tersebar di Karawang & Kepulauan Seribu (Desa tersebut : Cemara Jaya 300m, Tanjung Pakis 60m, Sedari 2.250m, Pantai Bakti 360m, Tambak Sari 2.740m, Sungai Buntu 625m, Kepulauan Seribu 1.160m, Desa Sukajaya 450m).

    PHE ONWJ didukung 2.908 personil yang terbagi dua kelompok yaitu 912 personil bertugas di perairan dan 1.996 bertugas di daratan. Dukungan personil ini terdiri dari elemen Oil Spill Combat Team (OSCT), TNI Polri, dan elemen masyarakat sekitar.

    Operasi pembersihan tumpahan minyak di perairan didukung dengan 47 unit kapal. 11 unit kapal diantaranya bertugas untuk oil combat. Selebihnya bertugas untuk pengejaran dan pengepungan minyak yang tercecer, pengangkut tumpahan minyak, patroli, dan siaga back up pemadam kebakaran.

  3. Penanganan Aspek Masyarakat

    Per Sabtu, 31 September 2019, PHE ONWJ menempatkan Layanan Kesehatan di 10 lokasi (area Karawang 9 lokasi, area Kepulauan Seribu 1 lokasi). Support tenaga medis untuk AWB Stork, check obat (jenis dan jumlah, masa kadaluwarsa) dan peralatan medis.

    Kondisi saat ini:

    • Tenaga medis untuk AWB Stork sudah onboard sejak tanggal 30 Agustus 2019. Kitchen & Living Quarters Inspection telah dilakukan. Check obat (jenis dan jumlah, masa kadaluwarsa) dan peralatan medis in progress. 

    • Implementasi Fit for Work utk crew AWB Stork dan PTM 2 in progress, rekomendasi via email ke user:

      1. Melengkapi hasil pemeriksaan.

      2. Penggantian crew yang MCU expired.


    Rencana aktivitas:

    • Kegiatan rutin adukasi Layanan kesehatan di desa terdampak. 

    • Pengukuran VOC, BTX dan H2S di Cemara Jaya dan Pisangan.


Posko kesehatan PHE ONWJ tersebut telah melakukan pengawasan kesehatan, pemeriksaan, sebanyak : Health surveillance/Daily Check Up: 509 orang & Layanan Pengobatan 371 orang dangan pengobatan untuk sekitar total 880 orang warga masyarakat (sampai dengan Layanan Pengobatan Per 31 Agustus 2019, Source: dr. Harry Dj. Hoerip, 19:00pm

Pemerintah Kabupaten Karawang membentuk Tim Kompensasi yang terdiri dari Lintas Dinas, Muspida, Muspika dan PHE ONWJ untuk penanganan kompensasi masyarakat akibat tumpahan minyak. Tim tersebut akan melakukan beberapa hal seperti merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi sesuai hasil verifikasi. Masyarakat terdampak akan menyampaikan pengaduan kerugian ke posko pengaduan yang didirikan di setiap desa terdampak, kemudian dilakukan inventarisasi dan verifikasi oleh tim untuk memastikan data kerugian.

Untuk mempercepat proses kompensasi, Pertamina juga membentuk Tim Khusus Pendataan dan Kompensasi. Tim ini terbagi menjadi 8 (delapan) sub tim yang didalam nya terdiri dari perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Karawang, Pertamina Grup, dan Tim ahli yang turun langsung ke masyarakat. Sekitar 230 lebih personil diturunkan serentak untuk mendata secara komprehensif warga masyarakat yang terdampak di sepanjang lokasi di Karawang dan Bekasi.


UPDATE HARIAN

PENANGANAN INTENSIF SUMUR YYA-1 PHE ONWJ
STATUS : SENIN, 2 SEPTEMBER 2019
DILAPORKAN : PUKUL 14.00 WIB

  1. Penanganan Sumur YYA-1 dengan Pengeboran Relief Well untuk Menutup Sumur Secara Permanen

    Pengeboran Relief Well telah mencapai kedalaman 2.514 meter atau 8.250 ftMD dari target 2.765 meter (sekitar 9.000 feet), Proses Pengeboran trayek lubang 12-1/4” dengan menggunakan metode ranging sedang berjalan.

    PHE ONWJ melakukan upaya pengendalian dan mematikan sumur YYA-1 dengan melakukan pengeboran sumur relief well (YYA-1 RW). Pengeboran mulai dilakukan pada 1 Agustus 2019 dengan menggunakan rig Soehanah yang berdiri sekitar 1 kilometer dari anjungan YY, tempat sumur YYA-1 berada.

    Rencananya, sumur relief well ini akan menembus sampai kedalaman sekitar 2.765 meter. Dengan pengeboran relief well ini, diharapkan dapat menutup sumur YYA-1 sehingga dapat menghentikan tumpahan minyak.

  2. Penanganan Tumpahan Minyak di Perairan dan Pesisir Pantai

    Per Minggu, 1 September 2019, PHE ONWJ menggelar oil boom sepanjang 15.295 meter untuk menghalau tumpahan minyak di perairan dan di pesisir pantai. Selain itu, PHE ONWJ juga mengerahkan 2.908 personil di darat dan laut, serta mengerahkan 47 unit kapal. Oil boom yang digelar tersebar di sejumlah titik. Di perairan, PHE ONWJ menggelar 4.600 meter static oil boom di lapis pertama dan 2.150 meter di lapis kedua. Selain itu, PHE ONWJ juga menempatkan 200 meter moveable oil boom, dan ditambah bantuan 400 meter oil boom di FSRU Nusantara Regas. Untuk di pesisir, PHE ONWJ menggelar 7.945 meter oil boom yang tersebar di Karawang & Kepulauan Seribu (Desa tersebut : Cemara Jaya 300m, Tanjung Pakis 60m, Sedari 2.250m, Pantai Bakti 360m, Tambak Sari 2.740m, Sungai Buntu 625m, Kepulauan Seribu 1.160m, Desa Sukajaya 450m).

    PHE ONWJ didukung 2.908 personil yang terbagi dua kelompok yaitu 912 personil bertugas di perairan dan 1.996 bertugas di daratan. Dukungan personil ini terdiri dari elemen Oil Spill Combat Team (OSCT), TNI Polri, dan elemen masyarakat sekitar.

    Operasi pembersihan tumpahan minyak di perairan didukung dengan 47 unit kapal. 11 unit kapal diantaranya bertugas untuk oil combat. Selebihnya bertugas untuk pengejaran dan pengepungan minyak yang tercecer, pengangkut tumpahan minyak, patroli, dan siaga back up pemadam kebakaran.

  3. Penanganan Aspek Masyarakat

    Per Sabtu, 31 September 2019, PHE ONWJ menempatkan Layanan Kesehatan di 10 lokasi (area Karawang 9 lokasi, area Kepulauan Seribu 1 lokasi). Support tenaga medis untuk AWB Stork, check obat (jenis dan jumlah, masa kadaluwarsa) dan peralatan medis.

    Kondisi saat ini:

    • Tenaga medis untuk AWB Stork sudah onboard sejak tanggal 30 Agustus 2019. Kitchen & Living Quarters Inspection telah dilakukan. Check obat (jenis dan jumlah, masa kadaluwarsa) dan peralatan medis in progress. 

    • Implementasi Fit for Work utk crew AWB Stork dan PTM 2 in progress, rekomendasi via email ke user:

      1. Melengkapi hasil pemeriksaan.

      2. Penggantian crew yang MCU expired.


    Rencana aktivitas:

    • Kegiatan rutin adukasi Layanan kesehatan di desa terdampak. 

    • Pengukuran VOC, BTX dan H2S di Cemara Jaya dan Pisangan.


Posko kesehatan PHE ONWJ tersebut telah melakukan pengawasan kesehatan, pemeriksaan, sebanyak : Health surveillance/Daily Check Up: 509 orang & Layanan Pengobatan 371 orang dangan pengobatan untuk sekitar total 880 orang warga masyarakat (sampai dengan Layanan Pengobatan Per 31 Agustus 2019, Source: dr. Harry Dj. Hoerip, 19:00pm

Pemerintah Kabupaten Karawang membentuk Tim Kompensasi yang terdiri dari Lintas Dinas, Muspida, Muspika dan PHE ONWJ untuk penanganan kompensasi masyarakat akibat tumpahan minyak. Tim tersebut akan melakukan beberapa hal seperti merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi sesuai hasil verifikasi. Masyarakat terdampak akan menyampaikan pengaduan kerugian ke posko pengaduan yang didirikan di setiap desa terdampak, kemudian dilakukan inventarisasi dan verifikasi oleh tim untuk memastikan data kerugian.

Untuk mempercepat proses kompensasi, Pertamina juga membentuk Tim Khusus Pendataan dan Kompensasi. Tim ini terbagi menjadi 8 (delapan) sub tim yang didalam nya terdiri dari perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Karawang, Pertamina Grup, dan Tim ahli yang turun langsung ke masyarakat. Sekitar 230 lebih personil diturunkan serentak untuk mendata secara komprehensif warga masyarakat yang terdampak di sepanjang lokasi di Karawang dan Bekasi.