Eksplorasi: Standarisasi Perhitungan Sumberdaya Prospek


BANDUNG - Kinerja Direktorat Hulu Pertamina diukur lewat peningkatan produksi dan tambahan temuan cadangan baru sumber daya migas yang dimiliki. Dalam rangka menyamakan visi dan persepsi terkait metode perhitungan kandungan sumber daya dalam satu prospek eksplorasi sebagai bagian dari langkah-langkah pencarian cadangan baru, fungsi Eksplorasi Direktorat Hulu mengadakan Lokakarya Evaluasi Implementasi Perhitungan Sumber Daya Prospek Eksplorasi dengan Program MMRA (multi method risk analysis), di Bandung pada 27-31 Agustus 2018. Hadir dalam acara tersebut VP Exploration Estimation Arief Wahidin Soedjono, Staf Ahli SVP Exploration Nusatriyo Guritno Mardanus, dan perwakilan seluruh anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bisnis hulu migas (APH) selaku peserta.

Dalam arahannya, Arief menjelaskan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk mengambil lesson learned dari beberapa contoh kasus penerapan software MMRA dalam perhitungan sumber daya prospek temuan eksplorasi. MMRA adalah software untuk penghitungan sumber daya dengan metode statistik yang direkomendasikan dalam buku Pertamina Exploration Way. 

Workshop tersebut  membahas delapan contoh kasus, meliputi empat kasus dari proyek eksplorasi PT Pertamina EP (PEP), yaitu: Akasia Maju (AMJ-1), Pamela Besar-A, Tejere, dan Titanuim serta empat kasus lainnya dari PT. Pertamina Hulu Energi (PHE), yakni Karunia-1, Kumis-2, KKX-1 ONWJ, dan PHE N-7. 

Pada kesempatan yang sama, Nusatriyo menjabarkan selama ini Pertamina belum memiliki metode standar dalam penghitungan cadangan. Seperti PEP misalnya, biasanya menggunakan Three Point Method. Sementara PHE, khususnya PHE ONWJ (Offshore North West Java), PHE WMO (West Madura Offshore), dan PHE Nunukan sudah menggunakan metode MMRA. “Sebenarnya secara filosofis, MMRA merupakan bagian dari Three Point Method. Karena MMRA ini adalah pengembangan lanjut dari Three Point Method. Jadi, metode MMRA merupakan peningkatan dari cara perhitungan yang lama ke yang baru,” jelas Nusatriyo.

Nursatriyo menambahkan, loka­karya ini dimaksudkan untuk mengukur daya serap peserta tentang MMRA. Dari sini akan terlihat bagaimana para peserta yang telah mengimplementasikan pengetahuannya di lapangan masing-masing, dalam mengelola data seperti data geologi dan geofisika (G&G), serta data lainnya untuk dimasukkan ke dalam perhitungan MMRA. 

Pada akhir workshop dibuatkan review atas impelementasi yang telah dilaksanakan di masing-masing APH. “Diharapkan dengan berbagai kasus yang dipaparkan pada workshop ini, dapat membantu teman-teman dalam memahami suatu usulan prospek, sehingga meningkatkan peluang untuk mendapatkan temuan cadangan lebih besar sekaligus memperkecil risiko fail,” kata Nursatriyo mengakhiri perbincangan•DIT. HULU

Share this post