Bersama demi BBM Satu Harga



PAPUA -  Menempuh perjalanan dengan jalan yang cukup menantang, rusak, bebatuan, berliku, bahkan naik turun melewati tebing yang curam, berkabut dengan potensi longsor  bukanlah hal yang luar biasa bagi Jhon T. Sunandar. Karena sehari-hari, ia bertugas untuk mendistribusikan BBM dari Kabupaten Nabire, Papua ke pelosok  Kabupaten Paniai, Papua. Sejauh 300 km ia tempuh dengan hati lapang.

“Saya driver mobil tangki BBM dari Nabire ke Paniai. Sekali jalan ke Paniai, saya membawa 5.000 liter  BBM dan sampai  ke lokasi sekitar 12 jam dalam kondisi normal,” ujar pria asli Pandeglang, Banten tersebut.

Paniai merupakan kabupaten yang terletak di pegunungan, 1.700 meter di atas permukaan laut. Lokasinya yang berada di pedalaman dengan jalan yang berkelok membuat Jhon bersepakat dengan beberapa Awak Mobil Tangki (AMT) lainnya untuk  melakukan perjalanan bersama setiap kali melakukan pendistribusian dari Terminal BBM Nabire.  Jhon bersama satu kernet konvoi dengan empat mobil tangki BBM lainnya dengan kapasitas muatan yang berbeda untuk menuju ke tujuan yang sama.

Menurut Jhon, karena Paniai berada di wilayah pegunungan dan di pedalaman, biasanya ada saja kendala di jalan.  Selain rawan kecelakaan, kondisi jalan seperti ini juga menuntut kondisi fisik yang prima dan  koordinasi dengan pengendara lainnya.

“Kalau konvoi, kami bisa saling membantu jika ada masalah di jalan,” ujar ayah dua putera yang sudah mengabdi sebagai AMT di bumi Cendrawasih ini selama sembilan tahun.

Jhon berkisah, pernah sekali waktu di jalan ada pohon tumbang. Karena mobil yang dibawanya relatif kecil, ia bisa melalui jalan tersebut dengan hati-hati. Namun, mobil tangki teman lainnya lebih besar sehingga tidak bisa lewat.  “Jadi kita potong kayu yang menghalangi supaya mobil besar bisa lewat. Akhirnya kita bisa melanjutkan perjalanan,” katanya.

Tidak hanya itu, jalanan berlumpur dan tanah longsor adalah rintangan  sehari-hari yang harus dilalui Jhon dan kawan-kawan. Meski sudah sering melewati jalanan tersebut, namun ia dan tim lainnya harus selalu waspada. Terkadang salah satu di antara mereka harus berhenti dan menunggu mobil-mobil tangki yang masih di belakang untuk memastikan lolos dari kendala tersebut.

“Kita mau melintas harus sama-sama takut ada apa-apa. Menjaga keselamatan yang utama. Sampai di Dogiyai kami minum kopi dulu agar tidak mengantuk. Kita lanjutkan lagi, lima mobil sama-sama pergi lanjutkan perjalanan,” ujar Jhon.

Sampai di tempat tujuan sekitar pukul 02.00 WIT, namun  bongkar muatan BBM baru bisa dilakukan pada pagi hari, sekitar  pukul 08.00 WIT, menunggu cahaya.

“Tidak bisa bongkar malam, jadi kita bermalam. Pagi, kita bongkar jam 8 pagi. Kita menuju ke dermaga. BBM dari mobil tangki diisikan ke drum-drum di atas perahu untuk dibawa ke Obano. Di sana ada petugasnya, dia pasang selang ke perahu yang sudah disediakan drum untuk menyeberang. Saya bantu ikat selang karena dia bekerja sendiri. Setelah selesai, saya dan teman-teman kembali ke Nabire,” jelasnya.

Susahnya medan yang ditempuh, tidak membuat Jhon pantang menyerah. Ia selalu semangat dalam menjalani segala tugas yang diberikan termasuk untuk misi BBM Satu Harga. Lelahnya terbayar saat ia melihat masyarakat yang menunggu mobil tangkinya datang di daerah tersebut. Ia berharap diberikan kesehatan dan selalu dilindungi Tuhan agar ia senantiasa dipercaya membawa mobil tangki BBM untuk masyarakat.

“Saya selalu semangat dengan rintangan dan tantangan yang ada di jalan. Kita hadapi dengan sabar, agar masyarakat di sana bisa merasakan apa yang saya bawa. BBM ini semoga sampai di sana dan mereka bisa gunakan dengan baik. Saya bersyukur Pertamina kasih kepercayaan kepada kami untuk antar BBM ke sini. Semoga saya terus selamat sampai di tujuan dan kembali lagi bertemu dengan keluarga saya di rumah,” pungkasnya.•IDK/ft. IS

Share this post