MEDIA PERTAMINA
| Edisi No. : 01 / XLVI / 4 Januari 2010 | 2010 |
| Jakarta, Senin, 04 Januari 2010 (08:30) | |
|
Ketika memasuki tahun 2010, Pertamina baru saja genap berusia 52 tahun.
Telah memantapkan langkah di tahun ketiga dan bersiap-siap memasuki tahun
keempat Program Transformasi. Sejumlah agenda besar pada tahun ini memaksa
Pertamina harus bekerja lebih keras dan cerdas. Kalau perusahaan ini beroperasi
apa adanya, agendaagenda besar transformasi menuju posisi kelas dunia sulit terwujud. Ketika tahun 2013 targetnya adalah menjadi perusahaan nasional migas nomor satu di Indonesia, sangat tidak mungkin target terdekat ini bisa dicapai dengan cara kerja as usual business. Waktu pencapaian target tinggal 2-3 tahun lagi. Misalnya di sektor hulu apakah bisa melampaui posisi nomor satu untuk tingkat produksi migas yang sekarang masing-masing dipegang Chevron (minyak) dan Total (gas)? Terlebih selisih tingkat produksi itu masih sangat tinggi? Soal kerja keras sebenarnya tak diragukan. Contoh, Pertamina EP, sebagai salah satu anak perusahaan sektor hulu malah mematok target mengalahkan Total dan Chevron dari produksi PEP sendiri, tanpa memperhitungkan angka pencapaian konsolidasi dengan produksi migas PHE, PEP Cepu, PEP Randugunting. Waktunya pun lebih singkat, tahun 2011. Berarti tahun besok, PEP harus mampu membuktikan target itu bisa dicapai. Sektor hulu inilah yang tampak paling besar tantangannya. Karena untuk bisnis hilir, terutama pemasaran dan niaga, produk-produk komersial Pertamina di dalam negeri masih dalam posisi market leader. Walaupun Pertamina masih harus memantapkan diri sebagai pemimpin pasar domestic, tidak hanya dalam kisaran 54 persen seperti ditunjukkan untuk produk komersial pelumas misalnya. Ada target 80 - 85 persen. Target lima tahun kedua lebih berat lagi. Tahun 2018 Pertamina harus nomor satu di kawasan Asia Tenggara atau bahkan Asia Pasifik. Setidaknya Pertamina harus melampaui pencapaian Petronas Malaysia atau PTT Thailand. Ketika pada 2008 lPertamina menangguk laba bersih Rp 30 triliun, laba bersih Petronas tahun itu sebesar Rp 153 triliun. Ini indikator yang mudah dijadikan tolok ukur posisi Pertamina hari ini. Hal logis yang paling mungkin dilakukan Pertamina adalah memperbesar daerah operasi hulu di dalam negeri baik melalui tender biasa maupun akuisisi dan penyertaan di lapangan-lapangan produktif. Juga mengejar pendapatan di luar negeri baik hulu maupun pemasaran-niaga. Karena Petronas pun menangguk laba bersih yang signifikan justru dari operasinya di luar Malaysia. Tahun 2010 ke depan adalah tahun-tahun yang berat perjuangan Pertamina.• |