MEDIA PERTAMINA
| Edition No. 27 / Tahun XLIV, 27 Juli 2008 | |
| Editorial | Antara Rating & Kinerja |
|
Senang sekali rasanya mendengar bahwa makin
hari perusahaan ini semakin baik kondisinya. Baru-baru ini, Kementerian BUMN
melansir rating untuk BUMN di tanah air. Hasilnya, Pertamina memperoleh rating 82,6. Artinya, kita masuk kategori AA alias sebagai perusahaan yang sehat. Belum lagi peringkat Pertamina pada Top 100 Oil Companies yang naik dari posisi 43 ke 30 versi sebuah lembaga independen internasional. Prestasi itu benar-benar menambah catatan manis di tahun 2008 ini. Kehadiran neraca awal yang sudah ditetapkan pada awal tahun ini, semakin lengkap dengan perolehan rating berkategori sehat itu. Belum lagi upaya audit keuangan yang sedang dilakukan sekarang. Di satu sisi, ini semakin menambah keyakinan kita semua bahwa Pertamina memang benar-benar siap untuk menjadi non listed public company di akhir tahun 2008. Rating atau peringkat memang bisa menjadi tolok ukur yang pantas diperhitungkan dalam dunia bisnis saat ini. Dalam penentuannya, pihak perating pasti memiliki standar penilaian masing-masing yang sangat spesifik. Rating merupakan elemen yang menyertai keberhasilan kita. Intinya, pada saat kinerja kita naik, rating kita dalam bidang itu akan ikut naik. Dan tidak menutup kemungkinan, rating perusahaan ini bisa mencapai angka tertinggi versi Kementerian BUMN, Top 100 Oil Companies, atau rating besar lainnya. Rating pun menjadi suatu hal yang sangat istimewa dan pantas dibanggakan. Satu pertanyaan terkait dengan rating adalah apakah peringkat yang kita dapat bisa membantu membentuk opini positif di mata publik? Jawabannya bisa. Tetapi satu yang perlu diingat, publik belum tentu memiliki persepsi yang sama tentang peringkat kita. Kebanyakan dari mereka menganggap rating bukan segalanya karena rating apapun yang kita miliki, kalau kinerja kita di sisi lain negatif, maka "nilai berita" rating itu akan anjlok. Publik tidak akan lagi peduli dengan peringkat kita saat persoalan kelangkaan dan kendala operasi dihembuskan. Masalah yang ramai dibicarakan media massa lebih mampu membentuk opini mereka daripada berita tentang rating Pertamina yang luar biasa. Artinya, rating menjadi percuma di mata mereka jika kinerja kita dipertanyakan. Memiliki rating yang bagus bukan berarti pekerjaan selesai. Justru tugas kita semakin berat untuk mengimbanginya sekaligus menjaganya dari segala sisi. Hal yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana kinerja kita terus meningkat ke depan. Karena itulah yang akan memberi nilai lebih bagi perusahaan ini ke depan. Untuk mencapai rating yang lebih tinggi, tentunya kita harus bisa mengimbangi dan mempertahankan rating yang ada sekarang baik itu versi nasional maupun internasional. Kalau kita sudah mampu mengimbanginya dengan kinerja prima dan kemudian bisa meningkatkannya dengan kinerja yang lebih dahsyat, baru kita bisa bicara kelas dunia.• |