MEDIA PERTAMINA
| Edisi No. : 13/XLI, 28 Maret 2005 | |
| Berita | GPC PERTAMINA : POTENSI PENGHEMATAN DEVISA 100 JUTA DOLAR PER TAHUN |
|
Pertamina melakukan inovasi dengan memanfaatkan unstable condensate menjadi produk Gasified Petroleum Condensate (GPC) sebagai energi alternatif minyak tanah. Jika dimanfaatkan secara maksimal, maka produk inovasi Pertamina ini dapat menghemat devisa sekitar 100 juta dolar AS per tahun.
Pertamina melakukan inovasi dengan memanfaatkan unstable condensate menjadi produk Gasified Petroleum Condensate (GPC) sebagai energi alternatif minyak tanah. Jika dimanfaatkan secara maksimal, maka produk inovasi Pertamina ini dapat menghemat devisa sekitar 100 juta dolar AS per tahun. Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Widya Purnama kepada pers di Jakarta, Selasa (22/3). ?Ini adalah salah satu alternatif energi yang dikembangkan. Daripada kondensat terbuang maka ditampung di dalam tabung sehingga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif dari minyak tanah,? kata Dirut Widya Purnama. Perhitungan potensi penghematan tersebut didasari dengan asumsi impor kerosine sebesar 30 MBCD dengan harga 54 dolar AS per barel. Jika harga kondensat diperkirakan sama dengan minyak mentah (ICP) dengan asumsi sebesar 44 dolar per barel maka terdapat selisih biaya atau potensi penghematan sebesar 10 dolar per barel. Dengan dasar asumsi tersebut maka potensi penghematan dalam satu tahun bisa mencapai 100 juta dolar AS atau sekitar 1 triliun rupiah. Sebagai pilot project akan diproduksikan 1.370 ton per bulan dari pemanfaatan produksi kondensat di Pertamina Daerah Operasi Hulu Sumatera Bagian Selatan sebesar 300 barel per hari. GPC yang diproduksi oleh Pertamina ini memiliki keunggulan dalam hal hemat energi. Dirut mengatakan bahwa bahan bakar ini dapat digunakan non stop selama 8 jam per kilogramnya. ?Dengan demikian, satu tabung GPC diperkirakan bisa bertahan 24 jam non stop,? katanya. Selain itu, GPC juga memiliki panas yang tinggi yang mencapai 10.000 sampai 12.000 cal/gram. Ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan minyak tanah yang nilai kalornya hanya mencapai 9.900 cal/gram. Api hasil pembakaran GPC bersih dan tidak menimbulkan jelaga serta tidak mengandung bahan-bahan yang membahayakan lingkungan. Kondensat dihasilkan dari sumur-sumur pemboran Pertamina di Hulu, dari proses kilang, dan di LNG Plant. Sifat unstabilized kondensat adalah sangat mudah menguap maka dapat dalam penyimpanannya dapat menimbulkan losses. Hal tersebut dilihat sebagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif. Pada Acara Peluncuran Prototype Bahan Bakar Baru GPC tersebut Wakil Dirut Mustiko Saleh menjelaskan bahwa kondensat ini sebenarnya produk sampingan dari gas. ?Ini yang kita manfaatkan,? ungkapnya. Direktur Pengolahan Suroso menambahkan bahwa perkembangan inovasi produksi ini terkait dengan sisi keekonomian. Dengan adanya peningkatan harga minyak maka produk ini akan menjadi ekonomis. Direktur Pengolahan Suroso mengatakan bahwa harga jual disesuaikan dengan harga bahan baku. Menurutnya, diperkirakan harga pokok GPC mencapai Rp 3.000 per kilogram, belum termasuk harga transportasi dan harga lainnya. Namun demikian, diprediksikan harga GPC berada pada kisaran antara harga minyak tanah subsidi dan harga Elpiji. Dalam aplikasinya, Suroso menjelaskan bahwa secara teknis kompor yang digunakan adalah kompor yang telah dimodifikasi. Namun demikian, kata Suroso, tidak tertutup kemungkinan untuk digunakan kompor minyak tanah yang menggunakan sistem pompa. ?Kalau kompor modifikasi tidak menimbulkan suara bising sedangkan kompor minyak tanah yang menggunakan pompa biasanya mengeluarkan suara bising,? kata Suroso. GPC dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pemakaian rumah tangga, pedagang makanan seperti nasi goreng, martabak, tahu, dan untuk bahan bakar industri. Prototip GPC yang diperkenalkan dalam kemasan tabung 3 kg yang sangat praktis dalam pemakaiannya. GPC memiliki potensi besar untuk dikembangkan di daerah pelosok yang sering mengalami kekurangan minyak tanah. Inovasi GPC ini sekaligus sebagai bagian dari upaya Pertamina dalam mengusahakan penyediaan bahan bakar yang ekonomis bagi masyarakat dan menciptakan nilai tambah serta menguntungkan Pertamina. Produk hasil inovasi Pertamina ini dikembangkan oleh Penelitian dan Laboratorium Pengolahan PT Pertamina (Persero) bekerjasama dengan Daerah Operasi Hulu Sumatera Bagian Selatan sejak dua tahun yang lalu. Kondensat yang diproduksikan oleh sumur minyak merupakan hasil kondensasi dari gas hidrokarbon (berbentuk cair) sebesar 10% - 20% yang memiliki sifat mudah menguap. Proses pemanfaatan ini merupakan nilai tambah yang dikembangkan Pertamina untuk mengurangi losses alamiah kondensat. Selain itu, unstable condensate juga mengurangi nilai keekonomian proses apabila tercampur dengan kondensat yang dipakai dalam proses pengolahan di kilang. Proses pengambilan kondensat di kilang juga meningkatkan efisiensi operasi kilang. |