MEDIA PERTAMINA
| Edisi No. : 13/XLI, 28 Maret 2005 | |
| Editorial | PRODUK BARU DAN HARAPAN KONSUMEN |
|
Kondisi energi hidrokarbon secara hukum alam cepat atau lambat akan mengalami penurunan. Ini merupakan salah satu permasalahan yang harus dijawab mengingat ketergantungan manusia terhadap bahan bakar minyak masih tinggi.
Gas yang dijagokan sebagai primadona telah mencoba untuk memberikan jawaban atas permasalahan ini sebagai energi alternatif. Namun demikian, gas belum dapat sepenuhnya diterima dengan segudang kondisi yang menyebabkan bisnis gas tersendat. Ini merupakan salah satu faktor kenapa ketergantungan konsumen terhadap BBM masih saja tinggi. Sama juga halnya dengan minyak tanah. Konsumen masih tetap setia dan buktinya bahan bakar bersubsidi itu masih menjadi pilihan kebanyakan masyarakat di negeri ini. Kalau demikian adanya, bagaimana dengan terobosan energi alternatif? Seharusnya banyak cara untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Namun tentunya diperlukan suatu ide cemerlang dan pemikiran yang matang agar bisa memperoleh solusi yang betul-betul bermafaat. Pertamina menjawab! Inovasi GPC (Gasified Petroleum Condensate) Pertamina menjadi salah satu jawaban dari masalah tersebut. Produk ini lebih panas dan tahan lama dibandingkan minyak tanah walaupun masih kalah awet dibandingkan dengan Elpiji. Tapi paling tidak, GPC diharapkan dapat dikembangkan lebih jauh untuk mengurangi konsumsi minyak tanah di tanah air. Dirut sendiri menegaskan bahwa penggunaan GPC ini memiliki potensi penghematan devisa negara dari penekanan biaya impor yang tidak tanggung-tanggung yaitu sampai 100 juta dolar AS setahunnya. Bagi konsumen, keuntungannya selain hemat energi, juga bersih dan ramah lingkungan. Bagi Pertamina, terobosan ini pun membantu menekan losses dari kondensat itu sendiri setelah diangkat dari sumur penghasil sekaligus meningkatkan efisiensi operasi kilang. Namun demikian, peluncuran produk apapun ?kita tahu? seyogianya sudah didukung dengan infrastruktur dan jaringan retail yang kuat termasuk perangkat kompor modifikasi yang sudah tersedia di pasaran. Sebenarnya hal ini di dasari atas pemikiran logis. Reaksi publik saat diperkenalkan dengan produk baru biasanya akan bertanya mengenai harganya, dimana bisa dibeli, dan apa keuntungan yang mereka bisa peroleh dari produk baru ini. Bahkan seorang konsultan dan praktisi pemasaran Yuliana Agung dalam bukunya 101 Konsultasi Praktis Pemasaran sempat mewanti-wanti agar produk itu lebih dulu siap segalanya sebelum calon konsumen mengetahui adanya produk baru lewat sebuah acara perkenalan. Logikanya sederhana saja. Jika pertanyaan tersebut sudah bisa langsung dijawab dengan sigap oleh Pertamina dalam bentuk nyata, maka efek dari inovasi ini dapat dirasakan langsung oleh konsumen dan Pertamina sendiri. Dan kemungkinan harapan perusahaan untuk mensubstitusi pemakaian minyak tanah pun bisa mulai terlihat. Jika pertanyaan tersebut tidak terjawab, yang dikhawatirkan adalah ?kekecewaan konsumen pada kesempatan pertama,? demikian diingatkan sang pakar marketing tersebut. Memang untuk menggeser ketergantungan yang sudah mengakar tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi paling tidak persiapan-persiapan dan manuver-manuver jitu sudah haru dipikirkan jauh sebelumnya. Dan inovasi Pertamina dengan produk barunya, GPC, sudah mengindikasikan semangat sebagai pemain bisnis sejati, berinovasi dan memberikan solusi kepada masyarakat (konsumen). |