|Home|WebMail|FAQ|Site Map|Contact Us

ARSIP MEDIA PERTAMINA

Arsip Berita
Arsip Editorial
Arsip Pojok Manajemen
Arsip Suara Pekerja
Selengkapnya (Download PDF Version)
Pertamina Blog Contest

MEDIA PERTAMINA

Edition No. 23 / Tahun XLIII, 03 September 2007   
Pojok Manajemen

Comfort Zone dan Perubahan

Direktur Keuangan (Ferederick) Pengantar Redaksi :
Budaya kerja sesuatu yang selalu dikumandangkan dalam setiap workshop transformasi. Karena dengan berubahnya budaya kerja maka dengan sendirinya transformasi dapat berjalan dengan baik. Hal yang sama juga selalu ditekankan direksi, yang menanyakan seberapa cepat Pertamina ingin berubah? Berikut pemaparan Direktur Keuangan yang juga sebagai Champion Transformasi Pertamina Ferederick ST Siahaan, dalam acara Culture Transformation Forum, Kamis (9/8) yang dikemas dalam bentuk tanya jawab.
Sejauhmana transformasi budaya sudah berjalan?
Memang Pertamina telah melakukan program transformasi ini selama satu tahun. Tapi yang namanya budaya memang paling sulit diubah.


Apa saja yang menjadi tantangan perubahan tersebut?
Ya, kita harus memaklumi karena Pertamina sudah terlalu lama tidak melakukan transformasi. Ketika hal itu terjadi ada sedikit pertarungan di dalam diri setiap pekerja. Dan tantangan yang paling berat yaitu tantangan dari dalam diri kita masing-masing.

 
Lalu langkah apa yang harus dilakukan?
Kita harus merenung dan mulai mengimplementasikan apa saja yang memang harus dilakukan. Dan tanyakan kepada diri kita sendiri, seberapa cepat kita mau berubah dari Pertamina lama menjadi Pertamina baru yang maju, unggul, dan terpandang.

Jadikanlah transformasi ini sebagai alat untuk melakukan terobosanterobosan yang memang sudah saatnya dilakukan oleh setiap pekerja Pertamina. Karena Pertamina sekarang ini berada di era kompetisi. Siapa yang lamban dan tidak mau berubah akan tergilas dengan perubahan itu sendiri.

Sebagai pandangan perubahan saja. Jika Anda ingin masuk disebuah perusahaan untuk bekerja, hal utama yang dilihat adalah budaya kerjanya. Kalau budaya kerjanya tidak cocok secara otomatis Anda tolak, meskipun kompensasi yang diberikan dari perusahaan tersebut cukup menggiurkan.

Nah, yang mau saya katakan di sini adalah adakah pekerja Pertamina melakukan hal tersebut, yaitu keluar dari perusahaan ini karena merasa budaya kerjanya dari dulu hingga kini tidak berubah? Tetapi yang saya lihat di sini adalah tetap berada di lingkungan Pertamina, meskipun tidak cocok dengan budaya kerjanya.


Kenapa hal tersebut terjadi?
Karena kebanyakan orang yang bekerja di Pertamina sudah merasa aman dan nyaman, atau sudah berada di comfort zone. Jadi tidak mau mengambil risiko.


Artinya, semua pekerja tidak ada kemauan untuk mengubah budaya kerja?
Bukan begitu. Begini sebagai contoh kalau di perusahaan swasta seorang direktur pasti mengetahui dimana letak  pantry. Jadi kalau ia ingin minum kopi tinggal bikin sendiri. Sambil jalan dan bawa cangkirnya. Sedangkan di Pertamina menjadi kebalikkannya. Namanya minuman sudah tersedia di meja, mulai dari air putih, kopi, dan teh. Kalau menurut saya pribadi sudah seperti dipaksa untuk minum.

Itu satu contoh. Adalagi seperti budaya meeting di direktorat keuangan, yang kalau tidak diubah secara financial dapat merugikan perusahaan. Maksudnya seperti di lantai 9 gedung utama ruang rapat direktorat keuangan telah menyediakan satu kotak air mineral. Maksudnya agar ketika rapat tidak perlu lagi menyediakan air. Tapi kenyataannya, ketika rapat terjadi setiap peserta mendapatkan satu kotak snack dan di dalamnya terdapat air mineral. Lucu kan? Jadi satu kotak air mineral yang telah disediakan untuk rapat tidak terpakai. Dan itu merupakan hal yang siasia.

Memang itu masalah sepele, tetapi efeknya sangat besar. Budaya seperti inilah yang harus dihilangkan. Bisa dibayangkan jika dalam satu bulan terdapat 10 kali rapat, sudah berapa uang yang dikeluarkan perusahaan hanya untuk air mineral?

 
Sarannya?
Saya minta, coba deh diidentifikasi satu saja  kebiasaan kita dalam sehari yang kurang baik atau paling tidak kita dapat  melihat dan mengatakan bahwa ini lho budaya kerja kita yang salah. Karena ada harga yang harus dibayar mahal, ketika kita ingin melakukan perubahan.

Karena di Pertamina sekalipun itu keputusan yang baik, pasti ada pihak yang dirugikan. Dan kesimpulannya hanya satu yaitu setiap keputusan yang diambil harus dilaksanakan meskipun banyak yang tidak senang. Karena sekarang ini Pertamina sedang bertransformasi.•NDJ