-
Company Profile
-
Company Profile
PERTAMINA is a State Owned oil & gas company (National Oil Company), established on December 10, 1957 under the name PT PERMINA. In 1961 the company changed its name to PN PERMINA and after the merger with PN PERTAMIN in 1968 it became PN PERTAMINA. With the enactment of Law 8 of 1971 the company became PERTAMINA. This name persisted until after PERTAMINA changed its legal status to PT PERTAMINA (PERSERO) on October 9, 2003.
-
Corporate Commitment
-
Our Networks
Provides information of PERTAMINA
- Career Development
Opportunities within Pertamina are extremely wide because we operate such a diverse set of businesses: Exploration & Production, Refining, Distribution to Marketing of products, and geothermal.
-
Company Profile
- Our Business
-
Our Business
PERTAMINA in conducting business activities in the field of energy and petrochemicals, was divided into two sectors, namely upstream and downstream, and supported by the activities of Children's Subsidiaries and Joint Ventures
-
Upstream
The business activities of the Pertamina Upstream Directorate cover exploration, production, and transmission of oil and gas. Other activities are Coal Bed Methane (CBM) and geothermal operations.
-
Downstream
Pertamina Downstream activities comprises of:
- Our Products
- Industry Marine
- Announcements
-
Our Business
- News Room
- Investor Relations
- Social Responsibility
- HSSE
Sambutan Groundbreaking RFCC RU IV Cilacap Project
28 Desember 2011
16:26 WIB
Sambutan Groundbreaking RFCC RU IV Cilacap Project
Jakarta, 28 Desember 2011
Sambutan oleh:
Ibu Karen Agustiawan
President Director & CEO
Bismillaahirrahmaanirrahiim, Assalamu'alaikum wr wb,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Yang terhormat,
- Presiden Negara Republik Indonesia, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Yang kami hormati,
- Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, Bapak Hatta Rajasa,
- Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia, Bapak Djoko Suyanto
- Jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II
- Your Excellency Ambassador of Republic of Korea
- Gubernur Provinsi Jawa Tengah
- Bupati Kabupaten Cilacap
- Hadirin dan tamu undangan yang berbahagia,
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya sehingga kita hari ini dapatmelaksanakan acara "GroundbreakingRFCC Project" di Pertamina Refinery Unit IV Cilacap.
Bapak Presiden, tamu
undangan yang kami muliakan,
Pada kesempatan yang baik ini, perkenankan kami melaporkan proyek RFCC di Refinery Unit IV Cilacap yang pemancangan tiang pertamanya akan dilaksanakan beberapa saat lagi. Perlu kami sampaikan, bahwa pembangunan RFCC Unit IV Cilacap ini merupakan salah satu dari beberapa project yang tercakup dalam Rencana Jangka Panjang Pertamina untuk menuju World Class Energy Company. Telah kita sadari bersama, bahwa peran kilang sebagai salah satu mata rantai bisnis hilir Pertamina adalah sangat penting bagi kelangsungan hidup perusahaan. Lebih dari itu, kilang Pertamina juga memiliki peran yang sangat vital bagi ketahanan energi nasional.
Saat ini, Pertamina memiliki 6 kilang dengan total kapasitas pengolahan Minyak Mentah kurang lebih 1 Juta Barrel per hari dan memproduksi BBM sejumlah 41 Juta Kilo Liter per tahun yang terdiri dari: Premium 12 Juta KL, Solar 18.3 Juta KL, Kerosene 7 Juta KL, dan Avtur 3,3 Juta KL. Sementara itu kebutuhan nasional saat ini telah mencapai 56 juta KL per tahun dan terus meningkat dengan laju konsumsi rata-rata 4% per tahun. Dengan tingkat kebutuhan nasional tersebut, produksi Premium dari kilang Pertamina hanya dapat memenuhi kebutuhan sebesar 54%, produk Solarsebesar 86% sedangkan produk Avtur dapat dipenuhi 100%, dan adanya excess Kerosene yang sedang diupayakan dikonversi menjadi produk Avtur.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional tersebut, sangat sulit bagi kilang-kilang Pertamina yang rata-rata dibangun di tahun 70 - 80 an untuk mampu memenuhi konsumsi BBM Nasional yang terus meningkat. Karena itulah, hingga saat ini, sulit bagi Pertamina untuk dapat menghindar dari impor BBM. Saat ini masih diperlukan import Premium sebesar 12 Juta KL dan Solar sebesar 3 Juta KL per tahun dan akan cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan laju konsumsi BBM. Sementara di sisi lain, sebagaimana pernah kami sampaikan kepada pemerintah, untuk dapat membangun kilang baru yang handal dalam waktu dekat adalah sesuatu yang sangat menantang, mengingat ; tingkat margin yang rendah, pembangunan kilang baru harus terintegrasi dengan Petrokimia dan investor memerlukan insentif karena nilai investasi yang sangat besar.
Meski demikian, di tengah tantangan tersebut Pertamina secara berkesinambungan telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan operasi kilang yang ada saat ini. Sejalan dengan tema RJPP Pertamina, yaitu aggressive upstream dan profitable downstream, kami tetap berupaya untuk memperbaiki bisnis kilang kita, agar bisnis hilir Pertamina mampu meningkatkan marginke depannya. Untuk itulah, melalui strategi bisnis kilang yang fokus dalam mengeksekusi proyek-proyek yang men-support langsung operasi kilang yang ada saat ini, kami berharap, kilang Pertamina yang ada saat ini seperti di Cilacap akan mampu meningkat kehandalannya sekaligus memberikan margin bagi perusahaan. Diharapkan kedepan dengan beroperasinya proyek-proyek antara lain: Proyek Langit Biru Cilacap, Pusat Terminal Minyak Mentah Lawe-Lawe Kapasitas 1 Juta KL, Proyek Refurbishment RU III Plaju dan Proyek Kilang Baru Balongan II (JV KPI) dan Proyek Kilang Baru Jawa Timur (JV Saudi Aramco), Pertamina akan mampu menambah produksi BBM yang sebelumnya 41 juta KL pertahunmenjadi 66,7 juta KL pertahun.
Bapak Presiden, hadirin dan tamu undangan yang kami hormati,
Perlu kami sampaikan bahwa kilang Cilacap terdiri dari 2 kompleks kilang pengolahan minyak mentah atau Fuel Oil Complex. FOC I dibangun pada tahun 1974 dan FOC II dibangun pada tahun 1981. Kilang Cilacap memiliki kapasitas produksi terbesar dari kilang Pertamina lainnya yaitu 348 ribu barel per hari atau setara 35% dari total kapasitas Kilang Pertamina. Saat ini volume produksi Gasoline dari kilang Cilacap mencapai 3,8 juta KL per tahun dengan kontribusi sebesar30% terhadap kebutuhan Gasoline nasional.
Proyek RFCC yang akan dimulai pembangunannya pada hari ini memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi BBM khususnya bahan bakar ber-oktan tinggi dan memiliki kualitas yang lebih tinggi (EURO IV Spec) serta memperbaiki margin kilang RU IV Cilacap secara keseluruhan.
Untuk merealisasikan proyek ini, Pertamina telah menginvestasikan dana sebesar $1,4 milyar dollar. Dengan beroperasinya proyek RFCC kilang Cilacap, diharapkan akan mampu meningkatkan volume produksi Gasoline sebesar 1.9 Juta KL per tahun. Selain itu, pembangunan proyek RFCC akan meningkatkan tambahan produksi LPGsebesar 352 ribu ton per tahun dan akan memproduksi produk Propylene sebesar142 ribu ton per tahun yang akan digunakan sebagai bahan baku Petrokimia Industri Plastik.
Bapak Presiden, hadirin dan tamu undangan yang kami hormati,
Kami masih ingat betul, apa yang pernah disampaikan oleh Bapak Presiden pada peringatan HUT Pertamina ke-50, agar Pertamina mampu menghasilkan produk-produk dan melakukan pelayanan secaracheaper, better, dan faster. Semoga, dengan diselesaikanya pembangunan proyek RFCC RU IV Cilacap dan Proyek Langit Biru Cilacap yang direncanakan dimulai pada tahun 2012, produk BBM yang dihasilkan oleh Pertamina akan semakin mampu berkompetisi dengan produk-produk pesaing. Karena dengan dibangunnya proyek RFCC dan Proyek Langit Biru Cilacap, maka kemampuan Pertamina memproduksi bahan bakar ber-oktan tinggi (HOMC) akan semakin meningkat yang akan berdampak pada penghematan devisa Negara.
Lebih dari itu, pembangunan proyek RFCC RU IV Cilacap ini diharapkan juga mampu mendukung Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia, di mana proyek yang akan dikerjakan oleh konsorsium PT Adhi Karya (Persero) danGS Engineering & Construction, diperkirakan akan menyerap sekitar 6.000 - 8.000 tenaga kerja dan penggunaan kandungan lokal (TKDN) mencapai 38% dari Nilai EPC atau setara dengan 320 Juta Dollar.
Dengan nilai local content mencapai 320 Juta Dollar, secara tidak langsung diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat, khususnya di sekitar area proyek RFCC RU IV Cilacap serta mendorong pertumbuhan usaha industri dan manufaktur dalam negeri. Jangka waktu pelaksanaan konstruksi proyek RFCC berdasarkan kontrak adalah 36 bulan atau beroperasi secara komersial pada kwartal ke 4 tahun 2014. Namun, PERTAMINA akan mendorong EPC Contractor untuk melakukan stretching sehingga keseluruhan Proyek dapat diselesaikan dan beroperasi secara komersial pada kwartal ke 3 tahun 2014.
Keberhasilan proyek ini, juga ditentukan oleh salah satu aspek pengendalian HSSE, untuk itu kami senantiasa mengingatkan kepada konsorsium pelaksana proyek untuk selalu mengedepankan aspek-aspek HSSE.
Bapak Presiden, Hadirin yang kami muliakan,
Pada kesempatan ini, perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat, Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah berkenan untuk meresmikan acaraGroundbreaking RFCC RU IV Cilacap. Masukan dan saran tentunya sangat kami harapkan demi lancarnya pelaksanaan konstruksi proyek RFCC kilang Cilacap ini yang nantinya akan memberikan manfaat kepada Negara, masyarakat dan generasi yang akan datang.
Terakhir, izinkan kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap acara ini, dalam rangka mewujudkan cita-cita besar Pertamina menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia, sekaligus menjadi kebanggaan nasional bangsa Indonesia. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa melimpahkan rahmat dan memberikan petunjuk terhadap kita semua.
Billaahi Taufiq Walhidayah Wassalamu'alaikum wr wb
President Director and CEO
Karen Agustiawan
