-
Profil Pertamina
-
Profil Pertamina
PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT PERMINA. Pada tahun 1961 perusahaan ini berganti nama menjadi PN PERMINA dan setelah merger dengan PN PERTAMIN di tahun 1968 namanya berubah menjadi PN PERTAMINA. Dengan bergulirnya Undang Undang No. 8 Tahun 1971 sebutan perusahaan menjadi PERTAMINA.
-
Komitment Perusahaan
-
Jaringan
Provides information of PERTAMINA
- Karir
Kesempatan untuk berkembang di Pertamina sangat terbuka luas karenakami memiliki bisnis dari hulu sampai ke hilir, mulai dari Eksplorasi& Produksi, Pengolahan, Distribusi hingga Pemasaranproduk-produknya, serta panas bumi.
-
Profil Pertamina
- Bisnis Pertamina
-
Bisnis Pertamina
Kegiatan PERTAMINA dalam menyelenggarakan usaha di bidang energi dan petrokimia, terbagi ke dalam dua sector, yaitu Hulu dan Hilir, serta ditunjang oleh kegiatan Anak-Anak Perusahaan dan Perusahaan Patungan.
-
Hulu
Kegiatan Direktorat Hulu Pertamina mencakup bidang-bidang eksplorasi, produksi, serta transmisi minyak dan gas. Aktivitas lainnya terdiri atas pengusahaan energi Coal Bed Methane (CBM) dan panasbumi.
-
Hilir
Usaha Hilir PT Pertamina (Persero) terdiri dari :
- Produk Kami
- Industry Marine
- Pengumuman
-
Bisnis Pertamina
- Berita Pertamina
- Hubungan Investor
- Tanggung Jawab Sosial
- K3LL
Antisipasi Krisis Minyak, Pertamina Ingin Mengolah Semua Minyak Mentah Dalam Negeri
22 Januari 2012
17:31 WIB
JAKARTA, PT
Pertamina (Persero) ingin mengolah semua minyak mentah dalam negeri dan
untuk itu siap memberikan penawaran terbaik bagi Kontraktor Kontrak
Kerjasama (KKKS) agar bersedia menjual minyak mentah bagian mereka untuk
diolah di kilang-kilang
Pertamina.
Penawaran ini juga sebagai antisipasi dari kemungkinan terjadinya krisis minyak apabila situasi di Selat Hormuz memanas dan juga untuk menjaga ketahanan energi Indonesia. Untuk itu Pertamina meminta dukungan Pemerintah untuk menyempurnakan regulasi bagi hasil minyak yang memberikan opsi kepada Pertamina untuk membeli minyak mentah bagian KKKS.
Upaya Pertamina untuk membeli minyak mentah bagian KKKS telah mendapatkan dukungan penuh dari BPMIGAS, tetapi memang saat ini tidak ada regulasi yang mengatur hal ini dan masih diperlukan penyempurnaan regulasi agar KKKS mau menjual minyak mentah bagiannya untuk kilang dalam negeri. Pertamina di samping telah mengirimkan surat kepada BPMIGAS, juga telah mengirimkan surat permintaan pembelian minyak mentah domestik kepada seluruh KKKS yang masih mengekspor minyak mentah bagian mereka.
"Minyak mentah produksi dalam negeri bagian pemerintah yang diolah Pertamina tersebut dibeli dengan harga Indonesian Crude Price yang nilainya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar. Pertamina membayar minyak mentah bagian pemerintah sekitar Rp600 miliar lebih tinggi dari harga pasar setiap tahunnya," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun.
Penyerapan minyak mentah domestik oleh Pertamina selama ini telah terbukti sangat menguntungkan bagi negara. Selain memberikan penerimaan yang lebih tinggi, pembelian minyak mentah domestik juga dapat mempertahankan harga minyak mentah Indonesia tetap pada level tinggi dan kompetitif.
Saat ini, kilang-kilang Pertamina telah mengolah seluruh minyak mentah produksi Pertamina dan bagian pemerintah yaitu sebanyak 534 ribu barel per hari (bph). Selain itu, Pertamina juga membeli langsung bagian KKKS sebanyak 3.500 bph, jumlah ini dirasakan masih jauh dari mencukupi mengingat kapasitas kilang Pertamina yang mencapai satu juta bph.
Pertamina juga berencana menyerap seluruh hasil produksi minyak mentah yang menjadi bagian KKKS yang beroperasi di Indonesia. Total minyak mentah bagian KKKS yang diekspor selama ini mencapai sekitar 210 ribu bph.
"Kami ingin menyerap minyak mentah yang selama ini masih diekspor oleh KKKS. Total minyak mentah bagian KKKS yang diekspor mencapai 210 ribu bph," katanya.
Minyak mentah yang ingin kita beli tetapi saat ini masih di ekspor KKS adalah jenis Sumatera Light Crude 64 ribu barrel per hari, Duri 81 ribu barrel per hari, Arjuna 4 ribu barrel per hari, Cinta 9 ribu barrel per hari, Widuri 9 ribu barrel per hari, Ataka 6 ribu barrel per hari, Handil 5 ribu barrel per hari, Belida 4 ribu barrel per hari, Geragai 3 ribu barrel per hari, Kaji 8 ribu barrel per hari dan Senipah 30 ribu barrel per hari.
Pertamina juga telah menyiapkan peta jalan bagi upaya peningkatan ketahanan BBM nasional dengan rencana upgrading dan juga pembangunan kilang baru hingga 2018. Beberapa proyek seperti refurbishment Plaju, Kerro Treater Dumai-BLPP, RFCC Cilacap-Program Langit Biru Cilacap, Bottom Upgrading BLPP, revamping Dumai dan pembangunan dua kilang baru di Balongan, Jawa Barat dan Tuban Jawa Timur, akan meningkatkan produksi BBM nasional dari 40,6 juta KL per tahun saat ini menjadi 66,7 juta KL per tahun pada 2018.
"Proyek-proyek tersebut diharapkan bisa meningkatkan ketahanan BBM nasional dan menekan impor. Akan tetapi, untuk merealisasikan rencana investasi tersebut, diperlukan dukungan pemerintah terkait dengan insentif dan juga alfa (margin dan biaya distribusi) yang memadai sehingga membuat investasi menjadi lebih menarik dan investor lebih bergairah."
Sementara itu, efisiensi yang telah berhasil dilakukan Pertamina dari kegiatan impor BBM untuk memenuhi kekurangan pasokan dari dalam negeri, telah mendorong penghematan sekitar US$280 juta pada 2011. Penghematan tersebut didasarkan pada harga pembelian BBM Pertamina dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku pada periode tersebut.
Penawaran ini juga sebagai antisipasi dari kemungkinan terjadinya krisis minyak apabila situasi di Selat Hormuz memanas dan juga untuk menjaga ketahanan energi Indonesia. Untuk itu Pertamina meminta dukungan Pemerintah untuk menyempurnakan regulasi bagi hasil minyak yang memberikan opsi kepada Pertamina untuk membeli minyak mentah bagian KKKS.
Upaya Pertamina untuk membeli minyak mentah bagian KKKS telah mendapatkan dukungan penuh dari BPMIGAS, tetapi memang saat ini tidak ada regulasi yang mengatur hal ini dan masih diperlukan penyempurnaan regulasi agar KKKS mau menjual minyak mentah bagiannya untuk kilang dalam negeri. Pertamina di samping telah mengirimkan surat kepada BPMIGAS, juga telah mengirimkan surat permintaan pembelian minyak mentah domestik kepada seluruh KKKS yang masih mengekspor minyak mentah bagian mereka.
"Minyak mentah produksi dalam negeri bagian pemerintah yang diolah Pertamina tersebut dibeli dengan harga Indonesian Crude Price yang nilainya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar. Pertamina membayar minyak mentah bagian pemerintah sekitar Rp600 miliar lebih tinggi dari harga pasar setiap tahunnya," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun.
Penyerapan minyak mentah domestik oleh Pertamina selama ini telah terbukti sangat menguntungkan bagi negara. Selain memberikan penerimaan yang lebih tinggi, pembelian minyak mentah domestik juga dapat mempertahankan harga minyak mentah Indonesia tetap pada level tinggi dan kompetitif.
Saat ini, kilang-kilang Pertamina telah mengolah seluruh minyak mentah produksi Pertamina dan bagian pemerintah yaitu sebanyak 534 ribu barel per hari (bph). Selain itu, Pertamina juga membeli langsung bagian KKKS sebanyak 3.500 bph, jumlah ini dirasakan masih jauh dari mencukupi mengingat kapasitas kilang Pertamina yang mencapai satu juta bph.
Pertamina juga berencana menyerap seluruh hasil produksi minyak mentah yang menjadi bagian KKKS yang beroperasi di Indonesia. Total minyak mentah bagian KKKS yang diekspor selama ini mencapai sekitar 210 ribu bph.
"Kami ingin menyerap minyak mentah yang selama ini masih diekspor oleh KKKS. Total minyak mentah bagian KKKS yang diekspor mencapai 210 ribu bph," katanya.
Minyak mentah yang ingin kita beli tetapi saat ini masih di ekspor KKS adalah jenis Sumatera Light Crude 64 ribu barrel per hari, Duri 81 ribu barrel per hari, Arjuna 4 ribu barrel per hari, Cinta 9 ribu barrel per hari, Widuri 9 ribu barrel per hari, Ataka 6 ribu barrel per hari, Handil 5 ribu barrel per hari, Belida 4 ribu barrel per hari, Geragai 3 ribu barrel per hari, Kaji 8 ribu barrel per hari dan Senipah 30 ribu barrel per hari.
Pertamina juga telah menyiapkan peta jalan bagi upaya peningkatan ketahanan BBM nasional dengan rencana upgrading dan juga pembangunan kilang baru hingga 2018. Beberapa proyek seperti refurbishment Plaju, Kerro Treater Dumai-BLPP, RFCC Cilacap-Program Langit Biru Cilacap, Bottom Upgrading BLPP, revamping Dumai dan pembangunan dua kilang baru di Balongan, Jawa Barat dan Tuban Jawa Timur, akan meningkatkan produksi BBM nasional dari 40,6 juta KL per tahun saat ini menjadi 66,7 juta KL per tahun pada 2018.
"Proyek-proyek tersebut diharapkan bisa meningkatkan ketahanan BBM nasional dan menekan impor. Akan tetapi, untuk merealisasikan rencana investasi tersebut, diperlukan dukungan pemerintah terkait dengan insentif dan juga alfa (margin dan biaya distribusi) yang memadai sehingga membuat investasi menjadi lebih menarik dan investor lebih bergairah."
Sementara itu, efisiensi yang telah berhasil dilakukan Pertamina dari kegiatan impor BBM untuk memenuhi kekurangan pasokan dari dalam negeri, telah mendorong penghematan sekitar US$280 juta pada 2011. Penghematan tersebut didasarkan pada harga pembelian BBM Pertamina dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku pada periode tersebut.
