Beasiswa Pertamina Foundation Untuk yang Berprestasi dan Cinta Bumi

Jakarta - Pintar dan berprestasi adalah syarat utama yang umumnya dipatok oleh sebuah lembaga ketika menggelontorkan beasiswa. Namun, bagi Pertamina Foundation (PF) hal itu tidak cukup. Penerima beasiswa juga harus aktif dan memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap bumi. Inilah yang menjadi ciri khas beasiswa PF, sebagai lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan hidup.


"Selain pintar dan berprestasi, penerima harus punya kegiatan berorientasi lingkungan dan aktif di bidang lingkungan. Seperti berkebun, mendaur ulang dan lain sebagainya," kata Direktur Green life Pertamina Foundation, Wahyudin Akbar. Program beasiswa ini telah menjangkau 14 universitas dan 11 provinsi di Indonesia, meliputi Aceh, Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Semarang, Medan, Makassar, Malang, Surabaya, dan Bali. Hingga akhir tahun 2011, 219 mahasiswa menerima beasiswa pendidikan.


Salah satu penerima beasiswa PF adalah Febryantoro, mahasiswa Teknik Kelautan, Universitas Diponegoro angkatan 2008. Sejak 2010, mahasiswa yang memiliki minat terhadap penelitian lingkungan ini merasakan manfaat beasiswa PF. Lahir dari seorang ibu rumah tangga dan ayah yang bekerja serabutan tak membuat ia patah arang dalam meraih mimpinya. Sendirian, ia tapaki jalan pendidikan hingga kuliah, tanpa merepotkan orang tuanya. "Kalau sudah lulus, saya ingin bekerja di sebuah yayasan yang bisa membuat Indonesia bangkit dan berkualitas. Bisa membuat Indonesia lebih baik lagi, memiliki sumber daya manusia yang berkualitas," tutur Febri yang hobi menyelam.
Bersama rekan-rekan kampusnya, ia mengembangkan penelitian transplantasi "Lamun", sejenis tumbuhan yang banyak hidup di laut. Di daratan, Lamun dikenal dengan sebutan Rumput Gajah. Febri berujar, proyek penelitian ini masih jarang dikembangkan dan belum banyak orang tahu di Indonesia.


Menurut Febri, banyak faedah yang didapat dari meneliti Lamun. Tumbuhan ini dapat menyerap karbondioksida 5 kali lipat melebihi daya serap mangrove dan dapat menyerap sendimentasi untuk mencegah terjadinya abrasi.

Lamun juga dapat digunakan untuk bahan obat-obatan. "Kami juga ingin mengembangkan sebuah konsep ekowisata, seperti hamparan padang Lamun di pulau Jawa. Berbeda dengan di pulau Sumatra, disana pemberdayaan Lamun sudah cukup baik," kata Febri yang memacu penelitiannya sejak Agustus 2010.


Baginya, beasiswa PF banyak memberikan manfaat. Tak hanya bantuan finansial yang mengalir kepadanya, namun pengetahuan tentang lingkungan juga ia serap dari berbagai kegiatan yang diadakan PF. Contohnya, melalui Forum dan Gathering Nasional PF. "Intinya, di PF berbagai karakteristik ada dan semua di­berdayakan untuk membantu kampanye untuk cinta ling­kungan. Jadi tidak hanya sekadar ide atau wacana tanpa solusi, tapi semuanya kami gabungkan baik ide, wacana, aksi dan juga solusi," ungkap Febri.


Febri dan kawan-kawan di PF cukup gencar mengam­pa­nye­kan gerakan hidup hijau (green life), dimulai dari hal kecil di kehidupan sehari hari, seperti berkebun raya mini, mengurangi penggunaan plastik, mengurangi penngunaan listrik hingga berbagai aksi-aksi lainya.